MAKALAH TANTANGAN DAN STRATEGI IMPLEMENTASI SILA-SILA DALAM PANCASILA DI ERA DIGITAL

 DAFTAR ISI

 

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1  Latar Belakang 1

1.2  Rumusan Masalah 2

1.3  Tujuan 2

BAB II BATANG TUBUH 3

2.1 Tantangan Terhadap Eksistensi Pancasila di Era Digital 3

2.2 Strategi Mempertahankan Nilai-nilai Pancasila di Era Digital 5

BAB III PENUTUP 10

3.1 Kesimpulan 10

3.2 Saran 10

DAFTAR PUSTAKA 11

 BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1    Latar Belakang

Perkembangan arus informasi di era digital semakin berkembang dan meluas di seluruh wilayah Indonesia. Semakin terbukanya dan mudahnya akses informasi tanpa batas di dunia digital membuat masyarakat mudah menerima informasi dari mana saja dan kapan pun.  Perkembangan teknologi dan infromasi sudah menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari. Bagaimanapun juga, teknologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tanun 2013, menyatakakan bahwa pengguna internet di Indonesia saat itu mencapai 63 juta. Selain itu, menurut riset situs HootSuite dan agensi marketting, We Are Social Bertajuk “Digital 2021: Global Overview Reports”  menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Indonesia berada di peringkat 9 dari 47 negara yang dianalisis. Data ini dinilai dari rata-rata masyarakat Indonesia menggunakan media sosial, yaitu 3 jam 14 menit.

Sebagian besar penggunaan media sosial di Indonesia dikuasai oleh generasi muda. Meskipun sebagian besar dari mereka menggunakan media sosial untuk hal-hal yang berguna. Namun, pengaruh negatif dari penggunaan media digital terutama media sosial juga tidak dapat dihindari.

Salah satu pengaruh negatif dari media digital adalah masuknya budaya asing. Memang budaya asing yang masuk ke Indonesia bisa berdampak positif dan negatif. Akan tetapi, kita perlu mengantisipasi dampak negatif dari masuknya budaya asing tersebut. Budaya asing yang masuk akibat dari adanya globalisasi. Menurut Winarno (dalam Maria Ulfa, 2021) mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling berhubungan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan.

Dampak negatif budaya asing yang masuk akibat globalisasi menyebabkan terjadinya pergeseran budaya luhur bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang awalnya memiliki budaya yang berpegang teguh pada pancasila, kini menjadi memudar akibat budaya asing yang tidak mampu difilter dengan baik.  Salah satu dampak negatifnya yaitu hilangnya rasa hidup rukun, toleransi, dan gotong-royong dalam kehidupan bermasyarakat sebagai implementasi dari sila-sila dalam pancasila.

Tantangan yang ditimbulkan akibat perkembangan media digital dan globalisasi perlu diantisipasi.  Perlunya filter untuk dapat menyaring hal-hal yang berdampak postif  atau berdampak negatif menjadi langkah awal dalam mempertahankan nilai luhur bangsa Indonesia.  Apabila tidak segera diatasi maka dapat menimbulkan penyimpangan dan kemerosotan nilai-nilai moral dan mengancam eksistensi dasar negara Republik Indonesia yaitu pancasila.  Oleh karena itu, makalah berjudul “Tantangan dan Strategi Implementasi Sila-sila dalam Pancasila di Era Digital” diharapkan mampu berkontribusi dan memberikan solusi terkait permasalahan di era digital yang berdampak pada eksistensi dari pancasila.

1.2    Rumusan Masalah

1.      Apa saja tantangan terhadap eksistensi pancasila di era digital ?

2.      Bagaimana strategi mempertahankan nilai-nilai pancasila di era digital ?

 

1.3    Tujuan

1.      Untuk mengetahui tantangan terhadap eksistensi pancasila di era digital.

2.      Untuk mengetahui strategi mempertahankan nilai-nilai pancasila di era digital.

BAB II

BATANG TUBUH

 

2.1    Tantangan Terhadap Eksistensi Pancasila di Era Digital

Tantangan bagi ideologi pancasila saat ini adalah digitalisasi. Sebagian besar semua informasi di media digital mudah dikases. Ketika semua mudah dalam mengkses sebuah informasi, maka hal ini dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Salah satu dampak negatifnya yaitu lunturnya nilai-nilai luhur suatu bangsa. Bangsa indonesia menganut ideologi pancasila.  Secara harfiah, ideologi pancasila dapat diartikan sebagai sebuah cara pandang berupa nilai-nilai luhur budaya dan religi yang diterapkan oleh negara kita (Aditya, 2021). Selain itu, generasi saat ini mudah sekali menerima informasi dari berbagai media digital yang dapat berdampak buruk bagi kemorosotan nilai moral mereka apabila tidak segera dibatasi. Walaupun, menurut A. Aco Agus dalam artikel berjudul “Relevansi Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka di Era Reformasi” yang diterbitkan di Jurnal Office (Vol.2, No.2, 2016) menjelaskan bahwa ideologi Pancasila tidak kaku dan tidak tertutup, akan tetapi reformatif, dinamis, dan terbuka. Generasi saat ini harus mampu membentengi diri dari berbagai tantangan yang mengancam pada eksistensi pancasila di dunia media digital ini.

Adapun tantangan yang perlu dihadapi generasi muda saat ini dalam mempertahankan eksistensi pancasila di era digital, sebagai berikut :

1.      Sikap Individualisme

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini sudah tidak diragukan lagi. Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi canggih sehingga membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam aktivitas sehari-hari mereka. Menurut Nadia Irvana Natasya (dalam haloedukasi.com) mengatakan bahwa secara umum individualisme bisa diartikan sebagai suatu pandangan yang lebih mementingkan kebebasan dan kemerdekaan pribadi atau individu dibandingkan kepentingan lain. Berdasarkan pernyataan tersebut membuktikan bahwa sikap individualisme ini berlawanan dengan sikap gotong-royong. Sikap individualisme dapat membuat pudarnya sikap gotong royong yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia.

Ada beberapa faktor penyebab terjadinya sikap individualisme, yaitu :

§  Faktor Genetik

Sikap individualisme dapat terjadi karena faktor genetik dari orang tua atau keluarga terdahulu lainnya.

§  Faktor Pola Asuh

Faktor pola asuh dapat membuat seorang anak memiliki sikap individualisme. Bagaimanapun juga, sesuatu yang diajarkan oleh orang tua akan menjadi suatu panutan bagi anaknya nanti.

§  Faktor Lingkungan

Lingkungan menjadi salah satu faktor terpenting yang dapat menyebabkan terbentuknya sikap individualisme. Kondisi lingkungan yang tertutup dan minimnya interaksi sosial dengan orang lain mengakibatkan tumbuhnya sikap individualisme dalam diri seseorang.

§  Faktor Ekonomi

Persaingan ekonomi yang semakin ketat membuat individu menjadi lebih fokus pada urusannya masing-masing. Hal ini juga dapat menyebabkan seseorang menjadi perhitungan dalam membantu orang lain nantinya.

2.      Kesenjangan Sosial

Perkembangan globalisasi juga dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Menurut KBBI, pengertian kesenjangan sosial sebagai perbedaan, jurang pemisah, dan ketidakseimbangan di dalam lapisan masyarakat atau tatanan masyarakat. Umumnya kesenjangan sosial terjadi karena finansial, tetapi perkembangan teknologi informasi di dunia digital ini juga dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Bagi masyarakat yang gagap terhadap teknologi dan tidak dapat mengikuti tren maka akan tergilas dan tertinggal dengan masyarakat lainnya. Akan tetapi, bagi masyarakat yang mampu beradaptasi dengan perkembangan di dunia digital ini akan membuat kehidupan mereka menjadi sejahtera dan makmur. Hal inilah yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial di antara masyarakat sehingga terjadi perbedaan tingkatan atau status sosial di antara setiap masyarakat.

Selain itu, akibat dari munculnya kesenjangan sosial berdampak pada kehidupan sosial di suatu lingkungan masyarakat. Salah satunya yaitu terjadinya diskriminasi sosial. Menurut Theodorson & Theodorson (1979) mengatakan bahwa definisi diskriminasi diartikan sebagai sebuah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan atau kelompok berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal atau atribut khas seperti ras, suku, agama atau keanggotaan kelas-kelas sosial. Berdasarkan definisi tersebut dapat dimaknai bahwa diskriminasi sosial dapat menimbulkan terjadinya intoleransi pada masyarakat. Intoleransi ini tidak sesuai dengan sila ketiga pancasila yaitu persatuan Indonesia Nilai utama dari sila ketiga pancasila adalah persatuan dan kesatuan yang membuat bangsa Indonesia tetap utuh dan tidak terpecah belah. Sila ketiga juga berfungsi sebagai pertahanan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain terjadinya diskriminasi sosial, kesenjangan sosial juga dapat menimbulkan terjadinya kriminalitas. Menurut Albdulsyani (dalam Sriyana, 2018:244) mengatakan bahwa  kriminalitas adalah suatu perbuatan yang dapat menimbulkan masalah-masalah dan keresahan bagi kehidupan di dalam masyarakat. Akibatnya, kehidupan masyarakat menjadi tidak rukun dan dipenuhi dengan rasa khawatir. Hal ini tidak sesuai dengan nilai dari sila kedua pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Nilai utama dari sila ini adalah seluruh rakyat Indonesia memiliki hak yang sama, salah satunya adalah hak untuk hidup rukun dan aman.

2.2  Strategi Mempertahankan Nilai-nilai Pancasila di Era Digital

Dalam melewati tantangan terhadap eksistensi pancasila di era digital dibutuhkan strategi yang tepat. Sebagai ideologi negara, pancasila menjadi sebuah acuan dalam menghadapi berbagai tantangan global yang terus berkembang, termasuk tantangan globalisasi.  Globalisasi membuat batasan-batasan di antara negara menjadi pudar seakan tak terlihat. Nilai-nilai pancasila perlu dikokohkan kembali di dalam seluruh masyarakat Indonesia terutama generasi muda, sehingga kebudayaan Indonesia tidak tergerus oleh ideologi atau kebudayaan luar.

Adapaun strategi yang perlu dilakukan sebagai masyarakat Indonesia terutama generasi muda dalam melewati berbagai tantangan yang mengancam eksistensi pancasila, sebagai berikut :

1.      Menguatkan Kembali Semangat Gotong-royong pada Jiwa Masyarakat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gotong-royong adalah aktivitas bekerja sama-sama, tolong-menolong, dan bantu-membantu.  Gotong-royong merupakan salah satu implementasi dari sila ketiga pancasila yaitu Persatuan Indonesia.  Kegiatan gotong royong juga menjadi bagian dari manusia sebagai makhluk sosial. Jika kita cermati pada tantangan sebelumya, gotong-royong dapat menjadi solusi dari sikap individualisme yang muncul pada masyarakat akibat perkembangan dunia digital yang begitu pesat.

Penguatan kembali nilai gotong-royong perlu dilakukan terutama pada generasi muda. Dimana mereka sedang mencari panutan untuk dijadikan refleksi bagi dirinya. Kesalahan dalam bergaul dapat menimbulkan berbagai masalah. Oleh karena itu, penguatan kembali semangat gotong-royong dan tolong-menolong perlu dilakukan pada generasi muda untuk mengatasi masalah tersebut.

Semangat gotong-royong pada generasi muda ini dapat tumbuh dengan beberapa cara, yaitu dengan menanamkan solidaristas yang tinggi terhadap sesama dan lingkungan. Selain itu, menghidupkan kembali semangat kebersamaan dalam komunitas yaitu melalui organisasi. Salah satu manfaat dari mengikuti sebuah organisasi adalah mendapatkan keutungan seperti memiliki keterampilan tertentu (soft skill). Bagaimanapun juga, mengikuti organisasi dapat membuat munculnya interaksi antar individu dan kelompok, sehingga terciptanya rasa kebersamaan dan kekeluargaan. 

2.      Menanamkan Kembali Sikap Toleransi pada Jiwa Masyarakat

Toleransi berasal dari bahasa Latin ‘tolerare’ yang memiliki arti sabar. Selain itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi berarti bersikap toleran terhadap orang lain yang berbeda pendapat.

Seiring dengan perkembangan dunia digital, sikap toleransi pada masyarakat mulai memudar karena munculnya kesenjangan antar masyarakat. Sikap toleransi perlu ditanamkan kembali karena sebagaimana yang kita ketahui, bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman suku, ras, agama, dan lain-lain. Apabila sikap toleransi dalam masyarakat pudar bahkan hilang, maka bangsa Indonesia akan terpecah belah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan runtuh.

Oleh karena itu, strategi dalam penanaman kembali sikap toleransi perlu dilakukan. Salah satu caranya yaitu pengedukasian mengenai budaya dan etika dalam bermedia digital. Literasi digital perlu dilakukan terkait edukasi  dalam bermedia digital. Literasi digital mengacu pada kemampuan terkait pengunaan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Tujuan dari literasi digital ini untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, serta mengomunikasikan informasi dengan kecakapan kogntif maupun teknikal.

Selain itu, menurut Bevaola (2021), masyarakat perlu memahami nilai demokrasi di ruang digital. Bevaola juga mengatakan bahwa kebebasan berekspresi merupakan salah satu perwujudan kecakapan digital di era demokrasi. Toleransi dan multikulturisme menjadi hal penting yang perlu dijunjung tinggi. Sikap toleransi harus tumbuh di tengah masyarakat yang heterogen ini.

Cara-cara sederhana untuk menumbuhkan sikap toleransi yaitu dengan spirit multikulturisme.Misalnya, menghormati orang yang lebih tua sebagai bentuk contoh saling menghormati dan toleransi dari sisi usia. Dengan demikian, masyarakat khususnya generasi muda  mampu menghidupakan kembali sikap toleransi dengan tetap berpegang teguh pada sila ketiga pancasila yaitu Persatuan Indonesia pada keberagaman di Indonesia ini.

3.      Mempertahankan Hidup Rukun dalam Kehidupan Bermasyarakat

Perkembangan dunia digital dapat mengakibatkan kesenjangan di antara masyarakat. Kesenjangan juga dapat menimbulkan munculnya kriminalitas. Hal ini tentu membuat kehidupan masyarakat menjadi tidak rukun karena rasa khawatir mereka. Selain itu, keanekaragaman Indonesia, baik dari suku, budaya, agama, dan lain-lain memerlukan kerukunan hidup.

Hidup rukun merupakan sebuah pola hidup seseorang atau kelompok masyarakat yang harus dijaga (Nisa, 2021). Selain itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rukun adalah baik dan damai atau tidak bertengkar.  Setiap orang menginginkan kehidupan yang rukun. Sebagaimana diketahui, sila ketiga pancasila mengajarkan kita untuk selalu hidup rukun guna mewujudkan persatuan masyarakat Indonesia. Selain itu, sila kedua pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab juga memiliki kaitannya dengan hidup rukun. Setiap manusia memiliki hak-haknya masing-masing, terutama hak untuk hidup aman dan rukun.

Strategi yang digunakan dalam mempertahankan kehidupan rukun pada masyarakat di era digital ini perlu dilakukan. Bagaimanapun juga, bangsa Indonesia merupakan negara yang bisa disebut plural. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia khususnya generasi muda dituntut untuk mampu mempertahankan hidup rukun dan damai di tengah keberagaman yang ada.

Adapaun cara yang perlu dilakukan dalam mempertahankan hidup rukun dalam masyarakat di era digital, sebagai berikut :

§  Saling Menghormati

Jika ingin dihormati oleh orang lain maka hormatilah juga orang lain. Bagaimanapun juga, sebagai sesama manusia, terciptanya kehidupan yang rukun dan damai memerlukan sikap saling menghormati. Sikap ini bisa diawali dalam lingkungan keluarga, seperti hormat kepada orang tua hingga lingkungan masyarakat, seperti tidak mengganggu ritual keagamaan orang lain.  Sikap saling menghormati ini juga merupakan bentuk implementasi dari sila ketiga pancasila. Selain itu, dalam menggunakan media sosial, diperlukan juga sikap saling menghormati terhadap orang lain,  apalagi terhadap orang yang belum dikenal. Misalnya, menyebarkan informasi di media sosial dengan tidak mengandung unsur SARA. Jika kita tidak bisa menyebarkan kebaikan di media sosial, setidaknya kita tidak meneruskan berita atau informasi yang tidak benar.

§  Tidak memaksakan kehendak

Setiap orang memiliki haknya masing-masing. Akan tetapi, hak seseorang dibatasi oleh hak orang lain. Sebagaimana sila keempat pancasila yaitu Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanan dalam Permusyawaratan Perwakilan, mengandung nilai bahwa sebagai warga negara dan warga masyarakat memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama. Selain itu, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain juga implementasi dari nilai sila keempat Pancasila. Misalnya, dalam bermain sosial media, kita tidak dapat memaksakan orang lain untuk menyukai apa yang kita sebarkan. Setiap orang memiliki kebebasan dalam bermedia sosial, tetapi kebebasan orang itu tidak dapat menganggu kebebasan orang lain juga.

§  Hindari Sikap Etnosentris

Etnosentris merupakan suatu sikap yang menganggap bahwa agama, ras, suku, bahasa kelompok sendiri jauh lebih baik dibanding dengan kelompok lainnya (Kumparan, 2021). Sikap ini harus dihindari oleh seluruh masyarakat karena Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman yang melimpah. Apabila sikap ini tidak bisa dihindari, maka dapat menimbulkan perpecahan dan runtuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui pola pikir harus diterapkan bahwa keberagaman yang dimiliki oleh kita merupakan suatu aspek yan sifatnya horizontal. Artinya, tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk karena semuanya sejajar.

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) di era digital ini semakin pesat. Akan tetapi, hal ini memiliki dampak buruk terhadap eksistensi ideologi bangsa Indonesia yaitu Pancasila. Dampak buruk yang apat dirasakan yaitu lunturnya nilai leluhur bangsa Indonesia, seperti hidup rukun, toleransi, dan gotong-royong. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi eksistensi pancasila ke depannya. Oleh karena itu dalam menghadapi tantangan ini diperlukan sebuah strategi yang tepat dalam mempertahankan pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

3.2  Saran

Dibutuhkan kajian literatur yang lebih banyak supaya dapat memberikan strategi yang lebih lebih tepat terkait tantangan pada eksistensi pancasila di era digitalisasi ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aditya, R. (2021, November 16). Pengertian Ideologi Pancasila dan Contohnya Dalam Kehidupan . Retrieved Desember 15, 2021, from suara: https://www.suara.com/news/2021/11/16/170835/pengertian-ideologi-pancasila-dan-contohnya-dalam-kehidupan

Aditya, R. (2021, Oktober 16). Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Gotong rotong di Lingkungan Sekitar. Retrieved Desember 16, 2021, from suara: https://www.suara.com/news/2021/10/16/191145/pengertian-tujuan-dan-manfaat-gotong-royong-di-lingkungan-sekitar

Eirin, G. (2021, Julu 26). Contoh Sikap yang Sesuai dengan Pancasila Sila Ke-3 di Keluarga, Materi Kelas 4 SD. Retrieved Desember 16, 2021, from bobo.grid: https://bobo.grid.id/read/082806705/contoh-sikap-yang-sesuai-dengan-pancasila-sila-ke-3-di-keluarga-materi-kelas-4-sd

Elawati. (2021, Juni 6). Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-nilai Pancasila. Retrieved Desember 15, 2021, from suara: https://yoursay.suara.com/kolom/2021/06/06/184043/pengaruh-globalisasi-terhadap-nilai-nilai-pancasila

Fajri, D. L. (2021, Desember 14). Pengertian, Penyebab, dan Dampak Kesenjangan Sosial Ekonomi. Retrieved Desember 16, 2021, from katadat: https://katadata.co.id/safrezi/berita/61b826a47ec59/pengertian-penyebab-dan-dampak-kesenjangan-sosial-ekonomi

Fila, M. T. (2019). Media Sosial Sebagai Sarana Membangun Kerukunan Pada Komunitas Young Interfaith Peacemaker (YIPC). Religi, Vol. XV, No. 1, Jan-Jun , 37.

Harianto, M. (2021, Juni 1). Perkokoh Nilai Pancasila Cara Menjaga Budaya Bangsa dari Globalisasi. Retrieved Desember 16, 2021, from antaranews: https://m.antaranews.com/berita/2186750/perkokoh-nilai-pancasila-cara-menjaga-budaya-bangsa-dari-globalisasi

Keuangan, K. (n.d.). Mencermati Tantangan Pancasila Sebagai Ideologi Negara di Era Digital. Retrieved Desember 15, 2021, from kemenkeu: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-bekasi/baca-artikel/13951/Mencermati-Tantangan-Pancasila-Sebagai-Ideologi-Negara-Di-Era-Digital.html

Khasanah, W. (2016, Oktober 29). Menumbuhkan Kmebali Jiwa Gotong royong pada Kalangan Masyarakat Maupun Kalangan Remaja. Retrieved Desember 16, 2021, from kompasiana: https://www.kompasiana.com/wardakhasanah/menumbuhkan-kembali-jiwa-gotong-royong-pada-kalangan-masyarakat-maupun-kalangan-remaja_5814182b6c7a615b0ffc4185

Kompas. (2020, Juli 29). Di Era Digital, Perlu Strategi Tepat Kenalkan Pancasila ke Generasi Milenial. Retrieved Desember 15, 2021, from kompas: https://nasional.kompas.com/read/2020/07/29/12263161/di-era-digital-perlu-strategi-tepat-kenalkan-pancasila-ke-generasi-milenial?page=1

Kompasiana. (2020, Juli 29). Tantangan Penanaman Nilai Pancasila di Era Digital. Retrieved Desember 15, 2021, from kompasiana: https://www.kompasiana.com/kompasiananews/5f219a7b097f36285212f9e2/tantangan-penanaman-nilai-pancasila-di-era-digital

Kumparan. (2021, Agustus 9). 5 Cara Hidup Rukun di Tengah Perbedaan dan Manfaat yang Didapat. Retrieved Desember 16, 2021, from kumparan: https://kumparan.com/berita-update/5-cara-hidup-rukun-di-tengah-perbedaan-dan-manfaat-yang-didapat-1wIXlb5AGbv

kumparanTECH. (2021, Februari 1). Orag Indonesia Lebih Kecanduan Media Sosial Dibanding Singapura. Retrieved Desember 15, 2021, from kumparan: https://kumparan.com/kumparantech/orang-indonesia-lebih-kecanduan-media-sosial-dibanding-singapura-1v53lUaziZ4

Merdeka. (2021, Oktober 27). Dampak Positif dan Negatif Globalisasi, Ketahui Bahaya dan Manfaatnya. Retrieved Desember 15, 2021, from merdeka: https://m.merdeka.com/sumut/dampak-positif-dan-negatif-globalisasi-ketahui-bahaya-dan-manfaatnya-kln.html

Natasya, N. I. (n.d.). Individualisme : Pengertian - Teori dan Cirinya. Retrieved Desember 15, 2021, from haloedukasi: https://haloedukasi.com/individualisme

Nisa, A. (2021, November 3). Pengertian dan Cara untuk Hidup Rukun, Materi Kelas 3 SD Tema 4. Retrieved Desember 16, 2021, from bobo.grid: https://bobo.grid.id/amp/082974005/pengertian-dan-cara-untuk-hidup-rukun-materi-kelas-3-sd-tema-4?page=2

Putra, N. B. (2019). Individualisme Penghambat Gotong Royong dan Terpecapainya Bonume Commune. Retrieved Desember 15, 2021, from osf: https://osf.io/4jek2/download/?format=pdf

Rachmawati, V. R. (2021, September 21). 20 Contoh Pengamalan Sila ke-4 dalam Kehidupan Sehari-hari. Retrieved Desember 16, 2021, from suara: https://www.suara.com/lifestyle/2021/09/21/134109/20-contoh-pengamalan-sila-ke-4-dalam-kehidupan-sehari-hari

Restu. (2021, Oktober). Makna dan Lambang Sila ke-3. Retrieved Desember 16, 2021, from Gramedia: https://www.gramedia.com/best-seller/makna-lambang-sila-ke-3/

Ulfa, M. (2021, November 18). Pengertian Globalisasi Menurut Para Ahli : Jenis, Dampak & Contohnya. Retrieved Desember 15, 2021, from tirto: https://tirto.id/pengertian-globalisasi-menurut-para-ahli-jenis-dampak-contohnya-glte

Yuda, A. (2021, Januari 19). Pengertian Toleransi, Tujuan, Manfaat, Ciri, dan Contoh Sikapnya dalam Kehidupan. Retrieved Desember 16, 2021, from bola: https://m.bola.com/ragam/read/4460880/pengertian-toleransi-tujuan-manfaat-ciri-dan-contoh-sikapnya-dalam-kehidupan


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer