MAKALAH TANTANGAN DAN STRATEGI IMPLEMENTASI SILA-SILA DALAM PANCASILA DI ERA DIGITAL
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II BATANG TUBUH
2.1
Tantangan Terhadap Eksistensi Pancasila di Era Digital
2.2
Strategi Mempertahankan Nilai-nilai Pancasila di Era Digital
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan
3.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan
arus informasi di era digital semakin berkembang dan meluas di seluruh wilayah
Indonesia. Semakin terbukanya dan mudahnya akses informasi tanpa batas di dunia
digital membuat masyarakat mudah menerima informasi dari mana saja dan kapan
pun. Perkembangan teknologi dan infromasi
sudah menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindari. Bagaimanapun juga,
teknologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan
data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tanun 2013,
menyatakakan bahwa pengguna internet di Indonesia saat itu mencapai 63 juta.
Selain itu, menurut riset situs HootSuite dan agensi marketting, We Are Social Bertajuk “Digital 2021: Global Overview Reports” menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam 10
besar negara yang kecanduan media sosial. Indonesia berada di peringkat 9 dari
47 negara yang dianalisis. Data ini dinilai dari rata-rata masyarakat Indonesia
menggunakan media sosial, yaitu 3 jam 14 menit.
Sebagian
besar penggunaan media sosial di Indonesia dikuasai oleh generasi muda.
Meskipun sebagian besar dari mereka menggunakan media sosial untuk hal-hal yang
berguna. Namun, pengaruh negatif dari penggunaan media digital terutama media sosial
juga tidak dapat dihindari.
Salah
satu pengaruh negatif dari media digital adalah masuknya budaya asing. Memang
budaya asing yang masuk ke Indonesia bisa berdampak positif dan negatif. Akan
tetapi, kita perlu mengantisipasi dampak negatif dari masuknya budaya asing
tersebut. Budaya asing yang masuk akibat dari adanya globalisasi. Menurut
Winarno (dalam Maria Ulfa, 2021) mendefinisikan globalisasi sebagai suatu
proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain
atau saling berhubungan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya,
ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan.
Dampak
negatif budaya asing yang masuk akibat globalisasi menyebabkan terjadinya
pergeseran budaya luhur bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang awalnya
memiliki budaya yang berpegang teguh pada pancasila, kini menjadi memudar
akibat budaya asing yang tidak mampu difilter dengan baik. Salah satu dampak negatifnya yaitu hilangnya
rasa hidup rukun, toleransi, dan gotong-royong dalam kehidupan bermasyarakat sebagai
implementasi dari sila-sila dalam pancasila.
Tantangan
yang ditimbulkan akibat perkembangan media digital dan globalisasi perlu
diantisipasi. Perlunya filter untuk
dapat menyaring hal-hal yang berdampak postif
atau berdampak negatif menjadi langkah awal dalam mempertahankan nilai
luhur bangsa Indonesia. Apabila tidak
segera diatasi maka dapat menimbulkan penyimpangan dan kemerosotan nilai-nilai
moral dan mengancam eksistensi dasar negara Republik Indonesia yaitu
pancasila. Oleh karena itu, makalah
berjudul “Tantangan dan Strategi Implementasi Sila-sila dalam Pancasila di Era
Digital” diharapkan mampu berkontribusi dan memberikan solusi terkait
permasalahan di era digital yang berdampak pada eksistensi dari pancasila.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa
saja tantangan terhadap eksistensi pancasila di era digital ?
2. Bagaimana
strategi mempertahankan nilai-nilai pancasila di era digital ?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui tantangan terhadap eksistensi pancasila di era digital.
2. Untuk mengetahui strategi mempertahankan nilai-nilai pancasila di era digital.
BAB
II
BATANG
TUBUH
2.1 Tantangan Terhadap Eksistensi
Pancasila di Era Digital
Tantangan
bagi ideologi pancasila saat ini adalah digitalisasi. Sebagian besar semua
informasi di media digital mudah dikases. Ketika semua mudah dalam mengkses
sebuah informasi, maka hal ini dapat menimbulkan dampak positif dan negatif.
Salah satu dampak negatifnya yaitu lunturnya nilai-nilai luhur suatu bangsa.
Bangsa indonesia menganut ideologi pancasila. Secara harfiah, ideologi pancasila dapat
diartikan sebagai sebuah cara pandang berupa nilai-nilai luhur budaya dan
religi yang diterapkan oleh negara kita (Aditya, 2021). Selain itu, generasi
saat ini mudah sekali menerima informasi dari berbagai media digital yang dapat
berdampak buruk bagi kemorosotan nilai moral mereka apabila tidak segera
dibatasi. Walaupun, menurut A. Aco Agus dalam artikel berjudul “Relevansi
Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka di Era Reformasi” yang diterbitkan di Jurnal
Office (Vol.2, No.2, 2016) menjelaskan bahwa ideologi Pancasila tidak kaku dan
tidak tertutup, akan tetapi reformatif, dinamis, dan terbuka. Generasi saat ini
harus mampu membentengi diri dari berbagai tantangan yang mengancam pada
eksistensi pancasila di dunia media digital ini.
Adapun
tantangan yang perlu dihadapi generasi muda saat ini dalam mempertahankan
eksistensi pancasila di era digital, sebagai berikut :
1. Sikap
Individualisme
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini sudah tidak diragukan
lagi. Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi canggih sehingga membuat
mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam aktivitas sehari-hari
mereka. Menurut Nadia Irvana Natasya (dalam haloedukasi.com) mengatakan bahwa
secara umum individualisme bisa diartikan sebagai suatu pandangan yang lebih
mementingkan kebebasan dan kemerdekaan pribadi atau individu dibandingkan
kepentingan lain. Berdasarkan pernyataan tersebut membuktikan bahwa sikap
individualisme ini berlawanan dengan sikap gotong-royong. Sikap individualisme
dapat membuat pudarnya sikap gotong royong yang sudah melekat pada masyarakat
Indonesia.
Ada
beberapa faktor penyebab terjadinya sikap individualisme, yaitu :
§ Faktor
Genetik
Sikap
individualisme dapat terjadi karena faktor genetik dari orang tua atau keluarga
terdahulu lainnya.
§ Faktor
Pola Asuh
Faktor
pola asuh dapat membuat seorang anak memiliki sikap individualisme.
Bagaimanapun juga, sesuatu yang diajarkan oleh orang tua akan menjadi suatu
panutan bagi anaknya nanti.
§ Faktor
Lingkungan
Lingkungan
menjadi salah satu faktor terpenting yang dapat menyebabkan terbentuknya sikap
individualisme. Kondisi lingkungan yang tertutup dan minimnya interaksi sosial
dengan orang lain mengakibatkan tumbuhnya sikap individualisme dalam diri
seseorang.
§ Faktor
Ekonomi
Persaingan
ekonomi yang semakin ketat membuat individu menjadi lebih fokus pada urusannya
masing-masing. Hal ini juga dapat menyebabkan seseorang menjadi perhitungan
dalam membantu orang lain nantinya.
2. Kesenjangan
Sosial
Perkembangan
globalisasi juga dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial. Menurut KBBI,
pengertian kesenjangan sosial sebagai perbedaan, jurang pemisah, dan
ketidakseimbangan di dalam lapisan masyarakat atau tatanan masyarakat. Umumnya
kesenjangan sosial terjadi karena finansial, tetapi perkembangan teknologi
informasi di dunia digital ini juga dapat menyebabkan terjadinya kesenjangan
sosial. Bagi masyarakat yang gagap terhadap teknologi dan tidak dapat mengikuti
tren maka akan tergilas dan tertinggal dengan masyarakat lainnya. Akan tetapi,
bagi masyarakat yang mampu beradaptasi dengan perkembangan di dunia digital ini
akan membuat kehidupan mereka menjadi sejahtera dan makmur. Hal inilah yang
dapat menimbulkan kesenjangan sosial di antara masyarakat sehingga terjadi
perbedaan tingkatan atau status sosial di antara setiap masyarakat.
Selain
itu, akibat dari munculnya kesenjangan sosial berdampak pada kehidupan sosial di
suatu lingkungan masyarakat. Salah satunya yaitu terjadinya diskriminasi
sosial. Menurut Theodorson & Theodorson (1979) mengatakan bahwa definisi
diskriminasi diartikan sebagai sebuah perlakuan yang tidak seimbang terhadap
perorangan atau kelompok berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal atau
atribut khas seperti ras, suku, agama atau keanggotaan kelas-kelas sosial.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dimaknai bahwa diskriminasi sosial dapat
menimbulkan terjadinya intoleransi pada masyarakat. Intoleransi ini tidak
sesuai dengan sila ketiga pancasila yaitu persatuan Indonesia Nilai utama dari
sila ketiga pancasila adalah persatuan dan kesatuan yang membuat bangsa
Indonesia tetap utuh dan tidak terpecah belah. Sila ketiga juga berfungsi
sebagai pertahanan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI).
Selain
terjadinya diskriminasi sosial, kesenjangan sosial juga dapat menimbulkan
terjadinya kriminalitas. Menurut Albdulsyani (dalam Sriyana, 2018:244)
mengatakan bahwa kriminalitas adalah
suatu perbuatan yang dapat menimbulkan masalah-masalah dan keresahan bagi
kehidupan di dalam masyarakat. Akibatnya, kehidupan masyarakat menjadi tidak
rukun dan dipenuhi dengan rasa khawatir. Hal ini tidak sesuai dengan nilai dari
sila kedua pancasila yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Nilai utama dari
sila ini adalah seluruh rakyat Indonesia memiliki hak yang sama, salah satunya
adalah hak untuk hidup rukun dan aman.
2.2 Strategi Mempertahankan Nilai-nilai
Pancasila di Era Digital
Dalam
melewati tantangan terhadap eksistensi pancasila di era digital dibutuhkan
strategi yang tepat. Sebagai ideologi negara, pancasila menjadi sebuah acuan
dalam menghadapi berbagai tantangan global yang terus berkembang, termasuk
tantangan globalisasi. Globalisasi
membuat batasan-batasan di antara negara menjadi pudar seakan tak terlihat.
Nilai-nilai pancasila perlu dikokohkan kembali di dalam seluruh masyarakat
Indonesia terutama generasi muda, sehingga kebudayaan Indonesia tidak tergerus
oleh ideologi atau kebudayaan luar.
Adapaun
strategi yang perlu dilakukan sebagai masyarakat Indonesia terutama generasi
muda dalam melewati berbagai tantangan yang mengancam eksistensi pancasila,
sebagai berikut :
1. Menguatkan
Kembali Semangat Gotong-royong pada Jiwa Masyarakat
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gotong-royong adalah aktivitas bekerja
sama-sama, tolong-menolong, dan bantu-membantu.
Gotong-royong merupakan salah satu implementasi dari sila ketiga
pancasila yaitu Persatuan Indonesia.
Kegiatan gotong royong juga menjadi bagian dari manusia sebagai makhluk
sosial. Jika kita cermati pada tantangan sebelumya, gotong-royong dapat menjadi
solusi dari sikap individualisme yang muncul pada masyarakat akibat
perkembangan dunia digital yang begitu pesat.
Penguatan
kembali nilai gotong-royong perlu dilakukan terutama pada generasi muda. Dimana
mereka sedang mencari panutan untuk dijadikan refleksi bagi dirinya. Kesalahan
dalam bergaul dapat menimbulkan berbagai masalah. Oleh karena itu, penguatan
kembali semangat gotong-royong dan tolong-menolong perlu dilakukan pada
generasi muda untuk mengatasi masalah tersebut.
Semangat
gotong-royong pada generasi muda ini dapat tumbuh dengan beberapa cara, yaitu
dengan menanamkan solidaristas yang tinggi terhadap sesama dan lingkungan.
Selain itu, menghidupkan kembali semangat kebersamaan dalam komunitas yaitu
melalui organisasi. Salah satu manfaat dari mengikuti sebuah organisasi adalah
mendapatkan keutungan seperti memiliki keterampilan tertentu (soft skill). Bagaimanapun juga,
mengikuti organisasi dapat membuat munculnya interaksi antar individu dan
kelompok, sehingga terciptanya rasa kebersamaan dan kekeluargaan.
2. Menanamkan
Kembali Sikap Toleransi pada Jiwa Masyarakat
Toleransi
berasal dari bahasa Latin ‘tolerare’ yang memiliki arti sabar. Selain itu,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi berarti bersikap toleran
terhadap orang lain yang berbeda pendapat.
Seiring
dengan perkembangan dunia digital, sikap toleransi pada masyarakat mulai
memudar karena munculnya kesenjangan antar masyarakat. Sikap toleransi perlu
ditanamkan kembali karena sebagaimana yang kita ketahui, bangsa Indonesia
memiliki keanekaragaman suku, ras, agama, dan lain-lain. Apabila sikap
toleransi dalam masyarakat pudar bahkan hilang, maka bangsa Indonesia akan
terpecah belah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan runtuh.
Oleh
karena itu, strategi dalam penanaman kembali sikap toleransi perlu dilakukan.
Salah satu caranya yaitu pengedukasian mengenai budaya dan etika dalam bermedia
digital. Literasi digital perlu dilakukan terkait edukasi dalam bermedia digital. Literasi digital
mengacu pada kemampuan terkait pengunaan teknologi, informasi, dan komunikasi
(TIK). Tujuan dari literasi digital ini untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan,
serta mengomunikasikan informasi dengan kecakapan kogntif maupun teknikal.
Selain
itu, menurut Bevaola (2021), masyarakat perlu memahami nilai demokrasi di ruang
digital. Bevaola juga mengatakan bahwa kebebasan berekspresi merupakan salah satu
perwujudan kecakapan digital di era demokrasi. Toleransi dan multikulturisme
menjadi hal penting yang perlu dijunjung tinggi. Sikap toleransi harus tumbuh
di tengah masyarakat yang heterogen ini.
Cara-cara
sederhana untuk menumbuhkan sikap toleransi yaitu dengan spirit
multikulturisme.Misalnya, menghormati orang yang lebih tua sebagai bentuk
contoh saling menghormati dan toleransi dari sisi usia. Dengan demikian,
masyarakat khususnya generasi muda mampu
menghidupakan kembali sikap toleransi dengan tetap berpegang teguh pada sila
ketiga pancasila yaitu Persatuan Indonesia pada keberagaman di Indonesia ini.
3. Mempertahankan
Hidup Rukun dalam Kehidupan Bermasyarakat
Perkembangan
dunia digital dapat mengakibatkan kesenjangan di antara masyarakat. Kesenjangan
juga dapat menimbulkan munculnya kriminalitas. Hal ini tentu membuat kehidupan
masyarakat menjadi tidak rukun karena rasa khawatir mereka. Selain itu,
keanekaragaman Indonesia, baik dari suku, budaya, agama, dan lain-lain
memerlukan kerukunan hidup.
Hidup
rukun merupakan sebuah pola hidup seseorang atau kelompok masyarakat yang harus
dijaga (Nisa, 2021). Selain itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
rukun adalah baik dan damai atau tidak bertengkar. Setiap orang menginginkan kehidupan yang
rukun. Sebagaimana diketahui, sila ketiga pancasila mengajarkan kita untuk
selalu hidup rukun guna mewujudkan persatuan masyarakat Indonesia. Selain itu,
sila kedua pancasila yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab juga memiliki
kaitannya dengan hidup rukun. Setiap manusia memiliki hak-haknya masing-masing,
terutama hak untuk hidup aman dan rukun.
Strategi
yang digunakan dalam mempertahankan kehidupan rukun pada masyarakat di era
digital ini perlu dilakukan. Bagaimanapun juga, bangsa Indonesia merupakan
negara yang bisa disebut plural. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia
khususnya generasi muda dituntut untuk mampu mempertahankan hidup rukun dan
damai di tengah keberagaman yang ada.
Adapaun
cara yang perlu dilakukan dalam mempertahankan hidup rukun dalam masyarakat di
era digital, sebagai berikut :
§ Saling
Menghormati
Jika
ingin dihormati oleh orang lain maka hormatilah juga orang lain. Bagaimanapun
juga, sebagai sesama manusia, terciptanya kehidupan yang rukun dan damai
memerlukan sikap saling menghormati. Sikap ini bisa diawali dalam lingkungan
keluarga, seperti hormat kepada orang tua hingga lingkungan masyarakat, seperti
tidak mengganggu ritual keagamaan orang lain.
Sikap saling menghormati ini juga merupakan bentuk implementasi dari
sila ketiga pancasila. Selain itu, dalam menggunakan media sosial, diperlukan
juga sikap saling menghormati terhadap orang lain, apalagi terhadap orang yang belum dikenal.
Misalnya, menyebarkan informasi di media sosial dengan tidak mengandung unsur
SARA. Jika kita tidak bisa menyebarkan kebaikan di media sosial, setidaknya
kita tidak meneruskan berita atau informasi yang tidak benar.
§ Tidak
memaksakan kehendak
Setiap
orang memiliki haknya masing-masing. Akan tetapi, hak seseorang dibatasi oleh
hak orang lain. Sebagaimana sila keempat pancasila yaitu Kerakyatan yang
Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanan dalam Permusyawaratan Perwakilan, mengandung
nilai bahwa sebagai warga negara dan warga masyarakat memiliki kedudukan, hak,
dan kewajiban yang sama. Selain itu, tidak memaksakan kehendak kepada orang
lain juga implementasi dari nilai sila keempat Pancasila. Misalnya, dalam
bermain sosial media, kita tidak dapat memaksakan orang lain untuk menyukai apa
yang kita sebarkan. Setiap orang memiliki kebebasan dalam bermedia sosial,
tetapi kebebasan orang itu tidak dapat menganggu kebebasan orang lain juga.
§ Hindari
Sikap Etnosentris
Etnosentris merupakan suatu sikap yang menganggap bahwa agama, ras, suku, bahasa kelompok sendiri jauh lebih baik dibanding dengan kelompok lainnya (Kumparan, 2021). Sikap ini harus dihindari oleh seluruh masyarakat karena Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman yang melimpah. Apabila sikap ini tidak bisa dihindari, maka dapat menimbulkan perpecahan dan runtuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui pola pikir harus diterapkan bahwa keberagaman yang dimiliki oleh kita merupakan suatu aspek yan sifatnya horizontal. Artinya, tidak ada yang lebih baik dan lebih buruk karena semuanya sejajar.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perkembangan
teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) di era digital ini semakin pesat.
Akan tetapi, hal ini memiliki dampak buruk terhadap eksistensi ideologi bangsa
Indonesia yaitu Pancasila. Dampak buruk yang apat dirasakan yaitu lunturnya
nilai leluhur bangsa Indonesia, seperti hidup rukun, toleransi, dan gotong-royong.
Hal ini dapat menjadi tantangan bagi eksistensi pancasila ke depannya. Oleh
karena itu dalam menghadapi tantangan ini diperlukan sebuah strategi yang tepat
dalam mempertahankan pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.
3.2 Saran
Dibutuhkan
kajian literatur yang lebih banyak supaya dapat memberikan strategi yang lebih
lebih tepat terkait tantangan pada eksistensi pancasila di era digitalisasi
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, R. (2021, November 16). Pengertian
Ideologi Pancasila dan Contohnya Dalam Kehidupan . Retrieved Desember 15,
2021, from suara:
https://www.suara.com/news/2021/11/16/170835/pengertian-ideologi-pancasila-dan-contohnya-dalam-kehidupan
Aditya, R. (2021, Oktober 16). Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Gotong
rotong di Lingkungan Sekitar. Retrieved Desember 16, 2021, from suara:
https://www.suara.com/news/2021/10/16/191145/pengertian-tujuan-dan-manfaat-gotong-royong-di-lingkungan-sekitar
Eirin, G. (2021, Julu 26). Contoh Sikap yang Sesuai dengan Pancasila
Sila Ke-3 di Keluarga, Materi Kelas 4 SD. Retrieved Desember 16, 2021,
from bobo.grid:
https://bobo.grid.id/read/082806705/contoh-sikap-yang-sesuai-dengan-pancasila-sila-ke-3-di-keluarga-materi-kelas-4-sd
Elawati. (2021, Juni 6). Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-nilai
Pancasila. Retrieved Desember 15, 2021, from suara:
https://yoursay.suara.com/kolom/2021/06/06/184043/pengaruh-globalisasi-terhadap-nilai-nilai-pancasila
Fajri, D. L. (2021, Desember 14). Pengertian, Penyebab, dan Dampak
Kesenjangan Sosial Ekonomi. Retrieved Desember 16, 2021, from katadat:
https://katadata.co.id/safrezi/berita/61b826a47ec59/pengertian-penyebab-dan-dampak-kesenjangan-sosial-ekonomi
Fila, M. T. (2019). Media Sosial Sebagai Sarana Membangun Kerukunan Pada
Komunitas Young Interfaith Peacemaker (YIPC). Religi, Vol. XV, No. 1,
Jan-Jun , 37.
Harianto, M. (2021, Juni 1). Perkokoh Nilai Pancasila Cara Menjaga
Budaya Bangsa dari Globalisasi. Retrieved Desember 16, 2021, from
antaranews:
https://m.antaranews.com/berita/2186750/perkokoh-nilai-pancasila-cara-menjaga-budaya-bangsa-dari-globalisasi
Keuangan, K. (n.d.). Mencermati Tantangan Pancasila Sebagai Ideologi
Negara di Era Digital. Retrieved Desember 15, 2021, from kemenkeu:
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-bekasi/baca-artikel/13951/Mencermati-Tantangan-Pancasila-Sebagai-Ideologi-Negara-Di-Era-Digital.html
Khasanah, W. (2016, Oktober 29). Menumbuhkan Kmebali Jiwa Gotong
royong pada Kalangan Masyarakat Maupun Kalangan Remaja. Retrieved Desember
16, 2021, from kompasiana:
https://www.kompasiana.com/wardakhasanah/menumbuhkan-kembali-jiwa-gotong-royong-pada-kalangan-masyarakat-maupun-kalangan-remaja_5814182b6c7a615b0ffc4185
Kompas. (2020, Juli 29). Di Era Digital, Perlu Strategi Tepat Kenalkan
Pancasila ke Generasi Milenial. Retrieved Desember 15, 2021, from kompas:
https://nasional.kompas.com/read/2020/07/29/12263161/di-era-digital-perlu-strategi-tepat-kenalkan-pancasila-ke-generasi-milenial?page=1
Kompasiana. (2020, Juli 29). Tantangan Penanaman Nilai Pancasila di
Era Digital. Retrieved Desember 15, 2021, from kompasiana:
https://www.kompasiana.com/kompasiananews/5f219a7b097f36285212f9e2/tantangan-penanaman-nilai-pancasila-di-era-digital
Kumparan. (2021, Agustus 9). 5 Cara Hidup Rukun di Tengah Perbedaan
dan Manfaat yang Didapat. Retrieved Desember 16, 2021, from kumparan:
https://kumparan.com/berita-update/5-cara-hidup-rukun-di-tengah-perbedaan-dan-manfaat-yang-didapat-1wIXlb5AGbv
kumparanTECH. (2021, Februari 1). Orag Indonesia Lebih Kecanduan Media
Sosial Dibanding Singapura. Retrieved Desember 15, 2021, from kumparan:
https://kumparan.com/kumparantech/orang-indonesia-lebih-kecanduan-media-sosial-dibanding-singapura-1v53lUaziZ4
Merdeka. (2021, Oktober 27). Dampak Positif dan Negatif Globalisasi,
Ketahui Bahaya dan Manfaatnya. Retrieved Desember 15, 2021, from merdeka:
https://m.merdeka.com/sumut/dampak-positif-dan-negatif-globalisasi-ketahui-bahaya-dan-manfaatnya-kln.html
Natasya, N. I. (n.d.). Individualisme : Pengertian - Teori dan Cirinya.
Retrieved Desember 15, 2021, from haloedukasi:
https://haloedukasi.com/individualisme
Nisa, A. (2021, November 3). Pengertian dan Cara untuk Hidup Rukun,
Materi Kelas 3 SD Tema 4. Retrieved Desember 16, 2021, from bobo.grid:
https://bobo.grid.id/amp/082974005/pengertian-dan-cara-untuk-hidup-rukun-materi-kelas-3-sd-tema-4?page=2
Putra, N. B. (2019). Individualisme Penghambat Gotong Royong dan
Terpecapainya Bonume Commune. Retrieved Desember 15, 2021, from osf:
https://osf.io/4jek2/download/?format=pdf
Rachmawati, V. R. (2021, September 21). 20 Contoh Pengamalan Sila ke-4
dalam Kehidupan Sehari-hari. Retrieved Desember 16, 2021, from suara:
https://www.suara.com/lifestyle/2021/09/21/134109/20-contoh-pengamalan-sila-ke-4-dalam-kehidupan-sehari-hari
Restu. (2021, Oktober). Makna dan Lambang Sila ke-3. Retrieved
Desember 16, 2021, from Gramedia:
https://www.gramedia.com/best-seller/makna-lambang-sila-ke-3/
Ulfa, M. (2021, November 18). Pengertian Globalisasi Menurut Para Ahli
: Jenis, Dampak & Contohnya. Retrieved Desember 15, 2021, from tirto:
https://tirto.id/pengertian-globalisasi-menurut-para-ahli-jenis-dampak-contohnya-glte
Yuda, A. (2021, Januari 19). Pengertian Toleransi, Tujuan, Manfaat,
Ciri, dan Contoh Sikapnya dalam Kehidupan. Retrieved Desember 16, 2021,
from bola:
https://m.bola.com/ragam/read/4460880/pengertian-toleransi-tujuan-manfaat-ciri-dan-contoh-sikapnya-dalam-kehidupan
Kerennn bingitsss
BalasHapuskerennnnn
HapusAww bagus bangetttt🥰🥰
BalasHapus🥰🥰
Hapusgood artikel 👍
BalasHapusmantap
BalasHapus